Aceh Tamiang – Kegiatan PKM tanggap bencana ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 16 februari 2026 di kecamatan manyak payed, desa mesjid. Kegiatan dilakukan oleh tim PKM unsam dengan ketua tim ibu Dra. Marjanah, M.Pd dan tiga orang mahasiswa pendidikan biologi UNSAM. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada masyarakat terdampak banjir di Desa Mesjid, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang.

Tahapan pelaksanaan program meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta perencanaan keberlanjutan program.
Desa Mesjid berperan aktif sebagai mitra dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat.

Peran pemerintah desa meliputi fasilitasi sosialisasi program, pendataan masyarakat terdampak, koordinasi distribusi bantuan, penyediaan lokasi kegiatan, serta dukungan keberlanjutan program melalui penguatan kader lokal. Keterlibatan pemerintah desa diharapkan dapat memastikan kelancaran pelaksanaan program dan keberlanjutan manfaat kegiatan bagi masyarakat.

Pada kegiatan PKM ini ketua tim memberikan penjelasan mengenai bencana alam seperti banjir tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik tetapi juga secara langsung dapat mengganggu ketahanan pangan dan status gizi masyarakat.

Ketahanan pangan dalam konteks rumah tangga di daerah bencana kerap terganggu karena gangguan terhadap rantai pasokan pangan, ketersediaan bahan makanan, kemampuan ekonomi untuk membeli makanan, serta layanan kesehatan dan gizi yang terbatas. Dalam konteks bencana banjir, food security tidak hanya mencakup ketersediaan makanan, tetapi juga akses fisik dan ekonomi terhadap makanan yang aman dan bergizi yang dapat menunjang kesehatan masyarakat pascabencana.

Dari segi pengabdian masyarakat, pendekatan ini tidak hanya bersifat distribusi bantuan, tetapi juga pemberdayaan pengetahuan sehingga masyarakat terdampak memiliki kemampuan untuk mempertahankan pola konsumsi gizi yang baik di tengah kondisi keterbatasan pascabencana. Hal ini sejalan dengan pendekatan yang direkomendasikan dalam literatur penanggulangan bencana yang menekankan pentingnya edukasi gizi dan ketahanan pangan sebagai bagian dari respon bencana komprehensif.

Kemudian setelah ketua memberikan penjelasan mengenai dampak banjir dan pentingnya pengetahuan mengenai gizi, kegiatan dilanjutkan dengan memberikan bantuan penanggulangan gizi bagi masyarakat terdampak banjir di Desa Mesjid, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang dirancang dalam bentuk Paket Gizi Darurat Terpadu yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar gizi masyarakat pada fase tanggap darurat hingga pemulihan awal.

Paket ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi keterbatasan sarana memasak, akses air bersih, serta kebutuhan khusus kelompok rentan, sehingga bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat mencukupi secara kuantitas, tetapi juga memadai dari sisi kualitas gizi. Paket bantuan gizi ini dirancang untuk melayani 50 warga terdampak banjir selama periode awal tanggap darurat, dengan estimasi pemanfaatan selama tiga hingga lima hari.

Bantuan disalurkan dalam bentuk bahan pokok bergizi dan makanan cepat saji yang mudah dikonsumsi, aman, dan sesuai dengan kebiasaan pangan masyarakat setempat. Komponen bahan pokok bergizi meliputi beras dalam kemasan besar sebagai sumber karbohidrat utama, minyak goreng nabati sebagai sumber lemak dan media pengolahan makanan, serta gula pasir sebagai sumber energi tambahan.

Untuk pemenuhan protein hewani, bantuan dilengkapi dengan telur ayam segar dalam jumlah mencukupi. Komposisi bahan pokok ini dipilih untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan zat gizi makro, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak, yang sangat dibutuhkan untuk menjaga stamina, mempercepat pemulihan fisik, dan meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat pascabencana.

Selain bahan pokok, paket bantuan juga mencakup makanan cepat saji bergizi yang dirancang khusus untuk kondisi darurat.

Secara keseluruhan, bantuan penanggulangan gizi ini diharapkan dapat mendukung pemulihan kesehatan masyarakat terdampak banjir, menjaga status gizi keluarga, serta memperkuat ketahanan pangan rumah tangga pada masa tanggap darurat dan pemulihan awal. Pendekatan terpadu antara pemenuhan kebutuhan gizi dan edukasi ini menjadi dasar penting dalam upaya pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat terdampak bencana.(*)