Aceh Tamiang — Upaya pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur dan bantuan logistik, tetapi juga menyentuh aspek penting kesehatan masyarakat, khususnya perempuan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Samudra menggelar edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah preventif mencegah infeksi saluran reproduksi di Desa Mesjid, Kecamatan Manyak Payed, Rabu (8/4/2026).

Kegiatan ini dipimpin oleh Indriaty bersama tim yang terdiri dari Ayu Wahyuni, Raja Novi Ariska, Marjanah, Fauziani, Adi Hartono, Hasbi Asidiqi NST, dan Nabila Syahfitri dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Program ini menjadi respons nyata terhadap dampak banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.

Dampak Banjir Picu Ancaman Kesehatan Perempuan

Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang sebelumnya tercatat berdampak pada ratusan ribu jiwa dan menyebabkan kerusakan luas pada permukiman serta fasilitas umum. Desa Mesjid menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, dengan genangan air yang tinggi dan berlangsung lama.

Kondisi tersebut memicu berbagai persoalan kesehatan, terutama bagi perempuan. Keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang buruk, serta minimnya fasilitas kebersihan pribadi membuat perempuan rentan mengalami gangguan kesehatan reproduksi, seperti keputihan abnormal, iritasi, hingga infeksi saluran reproduksi.

Selain faktor lingkungan, rendahnya pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi juga menjadi tantangan serius. Dalam situasi darurat, isu kesehatan reproduksi kerap dianggap tabu untuk dibicarakan, sehingga banyak kasus tidak tertangani secara optimal.

Edukasi Partisipatif, Libatkan Perempuan dari Berbagai Usia

Kegiatan edukasi ini menyasar ibu-ibu, perempuan dewasa, hingga remaja putri yang terdampak banjir. Metode yang digunakan bersifat partisipatif, meliputi penyuluhan, diskusi interaktif, hingga sesi tanya jawab.

Pada tahap awal, tim memperkenalkan diri serta menjelaskan tujuan kegiatan untuk membangun kedekatan dengan peserta. Selanjutnya, peserta diajak berdiskusi mengenai kondisi yang mereka alami pascabanjir.

Hasil diskusi menunjukkan berbagai kendala nyata di lapangan, seperti sulitnya mendapatkan air bersih, terbatasnya fasilitas toilet, hingga kurangnya ketersediaan pembalut. Beberapa peserta juga mengaku mengalami keluhan kesehatan seperti gatal, iritasi, dan keputihan.

Kenali Risiko Infeksi dan Cara Pencegahannya

Dalam sesi edukasi, peserta diberikan pemahaman tentang berbagai penyebab infeksi saluran reproduksi, mulai dari bakteri, jamur, hingga virus yang mudah berkembang di lingkungan lembap dan tidak higienis.

Tim juga menjelaskan tanda-tanda gangguan kesehatan reproduksi, seperti perubahan warna, bau, dan tekstur keputihan yang dapat menjadi indikator infeksi. Pengetahuan ini dinilai penting agar perempuan dapat melakukan deteksi dini.

Tak hanya itu, peserta juga dibekali praktik sederhana PHBS yang bisa diterapkan meski dalam keterbatasan, antara lain:

Membersihkan organ reproduksi dengan air bersih dari arah depan ke belakang

Rutin mencuci tangan menggunakan sabun

Mengganti pembalut setiap 4–6 jam saat menstruasi

Menjaga area genital tetap kering

Menggunakan pakaian dalam bersih dan tidak lembap

“Meski dalam kondisi darurat, kebersihan diri tetap bisa dijaga dengan cara sederhana. Ini kunci utama mencegah infeksi,” ujar salah satu anggota tim saat memberikan materi.

Bantuan Nyata: Paket Kebersihan Reproduksi

Sebagai bentuk dukungan konkret, tim juga membagikan paket kebersihan reproduksi kepada seluruh peserta. Paket tersebut berisi perlengkapan dasar seperti celana dalam, sabun, handuk kecil, dan pembalut.

Bantuan ini diharapkan dapat membantu perempuan memenuhi kebutuhan dasar kebersihan diri, sekaligus mendorong penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah keterbatasan pascabencana.

Antusiasme Tinggi, Pemahaman Meningkat

Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Banyak di antara mereka aktif bertanya dan berbagi pengalaman terkait permasalahan kesehatan yang dihadapi.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap:

Faktor risiko infeksi saluran reproduksi

Tanda dan gejala gangguan kesehatan

Cara menjaga kebersihan organ reproduksi

Pentingnya PHBS sebagai langkah pencegahan

Peserta juga mulai menyadari bahwa menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya kebutuhan pribadi, tetapi juga bagian penting dari kesehatan keluarga dan lingkungan.

Edukasi Jadi Kunci Pemulihan Kesehatan Pascabencana

Program ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan berbasis PHBS merupakan strategi efektif dalam upaya pencegahan penyakit, khususnya di wilayah terdampak bencana.

Selain meningkatkan pengetahuan, pendekatan edukatif juga mampu membentuk perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan. Hal ini menjadi kunci dalam memutus rantai risiko penyakit berbasis lingkungan.

Tim pengabdian berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya di Desa Mesjid, tetapi juga di wilayah lain yang terdampak bencana.

Dukungan dan Kolaborasi

Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Universitas Samudra melalui program pengabdian kepada masyarakat tanggap darurat bencana banjir tahun 2025. Apresiasi juga diberikan kepada Pemerintah Desa Mesjid serta seluruh masyarakat yang berpartisipasi aktif.

Dengan adanya kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, diharapkan pemulihan pascabencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, khususnya bagi perempuan sebagai kelompok rentan.(*)