Langsa – Ratusan mahasiswa Universitas Samudera (Unsam) Langsa, menyalakan api perjuangan demokrasi di halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Langsa, Jumat (23/8/2024). Dalam aksi damai yang penuh semangat ini, sekitar 200 mahasiswa bersatu menyuarakan penolakan mereka terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Pilkada yang dinilai sebagai ancaman serius bagi konstitusi dan demokrasi di Indonesia.
Dimulai pada pukul 14.00 WIB, aksi tersebut berjalan tertib namun sarat dengan pesan kuat yang tak bisa diabaikan. Dipimpin oleh Riski, koordinator yang dikenal gigih memperjuangkan hak-hak mahasiswa, massa berkumpul di halaman kampus Unsam sebelum melancarkan long march yang menggugah perhatian warga Kota Langsa.

Tepat pukul 15.41 WIB, barisan mahasiswa tiba di kantor DPRK Langsa dengan satu tujuan: menuntut penolakan terhadap RUU Pilkada yang dianggap menciderai keputusan Mahkamah Konstitusi tentang ambang batas pencalonan dalam Pilkada Serentak 2024. Dengan orasi yang menggema di seluruh sudut kota, mahasiswa menyampaikan petisi yang berisi tujuh poin utama yang tak hanya menolak RUU tersebut, tetapi juga menyerang isu-isu lain yang membebani masyarakat Langsa.
Petisi itu mengkritik keras berbagai upaya penyelewengan konstitusi oleh pemerintah dan DPR, serta menyoroti isu judi online, pelanggaran syariat Islam, dan eksploitasi anak di bawah umur yang semakin marak di Kota Langsa. Aksi ini menegaskan bahwa mahasiswa Unsam bukan hanya peduli pada politik nasional, tetapi juga pada moralitas dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Ketua DPRK Langsa, Maimul Mahdi, S.Sos, yang hadir di lokasi, merespons tuntutan mahasiswa dengan nada serius. Ia menyatakan dukungannya terhadap petisi tersebut dan berjanji akan meneruskannya ke tingkatan lebih tinggi, meski menyadari bahwa keputusan akhir bukan di tangan DPRK Langsa.
Dalam pidatonya, Riski dan mahasiswa Unsam lainnya memberikan ultimatum kepada pemerintah: jika petisi mereka tidak direspon dalam 24 jam, aksi lebih besar akan digelar. Ancaman ini mencerminkan tekad mahasiswa untuk tidak mundur dari perjuangan mereka demi keadilan dan demokrasi.
Aksi yang berlangsung hingga pukul 17.30 WIB itu diakhiri dengan penandatanganan dan penyerahan petisi kepada pihak DPRK. Meskipun dipenuhi dengan ketegangan, aksi ini berjalan dengan damai dan aman, menjadi contoh bagaimana mahasiswa bisa menyuarakan perubahan tanpa kekerasan.
Kota Langsa menyaksikan ba◊gaimana generasi muda tak hanya berteriak, tapi juga bertindak untuk masa depan yang lebih baik. (*)



Tinggalkan Balasan