Banda Aceh – Di bawah terik matahari Banda Aceh, Lapangan Tugu Universitas Syiah Kuala menjadi saksi bisu jatuhnya harapan tim Baseball Aceh dalam upaya mereka meraih kemenangan di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut. Pada hari Selasa, 3 September 2024, tim Jakarta berhasil menorehkan skor yang mencengangkan, 0-21, dalam laga yang berlangsung singkat namun penuh tekanan.

Sejak awal pertandingan, tim Jakarta menunjukkan superioritasnya. Setiap bola yang dilemparkan oleh pitcher Aceh seakan menjadi makanan empuk bagi para pemukul Jakarta yang berpengalaman. Dalam tiga inning yang intens, tim Aceh tak mampu melawan gempuran lawannya. Inning pertama dan kedua berakhir dengan skor 0-8, sementara inning ketiga menyisakan skor 0-5, mencerminkan dominasi mutlak dari tim Jakarta.

Kekalahan ini bukanlah yang pertama bagi tim asuhan pelatih Qarel Muhammad Fikar. Sehari sebelumnya, mereka juga harus menerima kekalahan pahit dengan skor 0-23 dari tim Bali. Dua kekalahan berturut-turut ini menjadi cerminan dari tantangan besar yang dihadapi tim Baseball Aceh.

Dalam wawancaranya dengan Bithe.co, Qarel dengan jujur mengakui bahwa persiapan tim jauh dari kata ideal. “Kami baru mulai latihan tiga bulan yang lalu, itupun dengan fasilitas yang sangat minim. Anak-anak bahkan belum pernah melihat lapangan baseball yang sebenarnya sebelum ini,” ujar Qarel, yang juga menyoroti minimnya dukungan dari pemerintah dan KONI Aceh terhadap cabang olahraga ini.

Namun, di balik kegagalan ini, Qarel tetap berusaha memotivasi para pemainnya. Menurutnya, pertandingan ini bisa menjadi pengalaman berharga untuk memperkuat mental para atlet, mempersiapkan mereka untuk event-event besar lainnya di masa depan.

Menatap pertandingan selanjutnya melawan Sumatera Utara, Qarel memilih untuk tetap optimis. “Yang penting anak-anak tidak terbeban, main lepas saja,” katanya penuh harap.

Meskipun hasil di lapangan belum berpihak kepada mereka, tim Baseball Aceh bertekad untuk terus berjuang, membawa nama daerahnya dengan penuh semangat meski di tengah keterbatasan.

Foto: Bithe/Mardili