Semarang – Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan sebagai ajang refleksi bagi para pemimpin. Dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama di Semarang, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menyoroti pentingnya objektivitas dalam kepemimpinan.

Dalam tausiah yang disampaikannya, Nusron mengingatkan bahwa salah satu kesalahan fatal seorang pemimpin adalah mengambil keputusan berdasarkan perasaan atau kedekatan pribadi.

Ia menilai, banyak pemimpin yang tanpa sadar terpengaruh oleh ikatan emosional, baik karena kesamaan latar belakang organisasi maupun hubungan personal. Hal ini berpotensi merusak prinsip keadilan dalam pemerintahan.

“Kadang kita harus menjaga jarak, meskipun punya kedekatan. Karena keadilan itu butuh kehati-hatian,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan bahwa kebijakan yang baik adalah kebijakan yang memberikan kemudahan bagi masyarakat, bukan sebaliknya. Pemerintah, menurutnya, harus hadir sebagai solusi, bukan menjadi beban.

Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, turut menambahkan bahwa reformasi kebijakan harus diarahkan pada efisiensi dan kemandirian daerah. Ia menyoroti pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap APBN.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Ketua Bawaslu Rahmat Bagja, serta berbagai unsur pemerintahan dan organisasi seperti HMI dan KAHMI.

Momentum ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh pemimpin untuk terus menjaga integritas, keadilan, dan profesionalisme dalam menjalankan amanah kepada masyarakat.(*)